Minggu, 04 Juli 2010

proses psikologi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berbicara tentang jiwa , terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniah yang adanya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan badaniah organik behavior, yaitu perbuatan yang di timbulkan oleh proses belajar .misanya : insting, refleks, nafsu dan sebagainya.

Sedang jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak , yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan – perbuatan pribadi ( personal behavior ) dari hewan tingkat tinggi dan manusia.perbuatan pribadi ialah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial, dan lingkungan.proses belajat adalah proses untuk meningkatkan kepribadian ( personality) dengan jalan berusaha mendapatkan pengertian baru , nilai – nilai baru, dan kecakapan baru, sehingga ia dapat berbuat yang lebih sukses dalam menghadapi kontradiksi – kontradiksi dalam hidup. Jadi jiwa mengandung pengertian – pengertian , nilai – nilai kebudayaan, dan kecakapan – kecakapan.

Bila dibandingkan dengan ilmu – ilmu lain seperti : ilmu pasti, ilmu alam, dan lain – lain maka ilmu jiwa dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang serba kurang tegas, sebab ilmu ini mengalami perubahan, tumbuh, berkembang untuk mencapai kesempurnaan. Psikologi ini merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam – macam gejalanya , proses maupun latar belakangnya. Dengan singkat di sebut ilmu jiwa.

1.2 Tujuan

Mempelajari psikologi bertujuan untuk :

1. agar kita dapat mengetahui tingkat kejiwaan seseorang.

2. untuk mempelajari kejiwaan diri kita sendiri dan orang lain.

3. untuk dapat meningkatkan kepribadian diri.

4. untuk mengetahui gejala – gejala yang menyangkut psikologi diri.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Konsep Dasar Psikologi

2.1.1 Pengertian dan Definisi Psikologi

a. Pengertian

“ Psikologi “ berasal dari perkataan yunani “ Psyche” yang artinya jiwa , dan “ logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam – macam gejalanya , proses mmaupun latar belakangnya. Dengan singkat di sebut ilmu jiwa.

Berbicara tentang jiwa , terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antara nyawa dan jiwa. Nyawa adalah daya jasmaniah yang adanya tergantung pada hidup jasmani dan menimbulkan perbuatan badaniah organik behavior, yaitu perbuatan yang di timbulkan oleh proses belajar .misanya : insting, refleks, nafsu dan sebagainya. Jika jasmani mati , maka mati pulalah nyawanya.

Sedang jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak , yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan – perbuatan pribadi ( personal behavior ) dari hewan tingkat tinggi dan manusia.perbuatan pribadi ialah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial, dan lingkungan.proses belajat adalah proses untuk meningkatkan kepribadian ( personality) dengan jalan berusaha mendapatkan pengertian baru , nilai – nilai baru, dan kecakapan baru, sehingga ia dapat berbuat yang lebih sukses dalam menghadapi kontradiksi – kontradiksi dalam hidup. Jadi jiwa mengandung pengertian – pengertian , nilai – nilai kebudayaan, dan kecakapan – kecakapan.

Bila dibandingkan dengan ilmu – ilmu lain seperti : ilmu pasti, ilmu alam, dan lain – lain maka ilmu jiwa dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang serba kurang tegas, sebab ilmu ini mengalami perubahan, tumbuh, berkembang untuk mencapai kesempurnaan.

Karena sifatnya yang abstrak , maka kita tidak dapat mengetahui jiwa secara wajar , melainkan kita hanya dapat mengenal gejalanya saja. Jiwa adalah sesuatu yang tidak tampak , tidak dapat dilihat oleh alat diri kita. Demikian pula hakikat jiwa , tak seorang pun dapat mengetahuinya. Manusi dapat mengetahui jiwa seseorang hanya dengan tingkah lakunya. Jadi tingkah laku itulah orang dapat mengetahui jiwa seseorang. Jadi tingkah laku itu merupakan kenyataan jiwa yang dapat kita hayati dari luar.

Pernyataan jiwa itu kita namakan gejala – gejala jiwa, di antaranya mengamati, menaggapi, mengingat, memikir dan sebagainya. Dari itulah orang kemudian membuat definisi : ilmu jiwa yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.

Sebagai ilmu pengetahuan , psikologi juga mempunyai sifat – sifat yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan pada umunya. Karena itu psikologi mempunyai :

1. objek tertentu

2. metode penyelidikan tertentu.

3. sistemitak yang teratur sebagai hasil pendekatan terhadap objeknya.

b. Definisi

Secara umum psikologi diartikan ilmu yang mempeajari tingkah laku manusia . atau ilmu yang mempelajari tentang gejala – gejala jiwa manusia. Di antara pengertian yang di rumuskan oleh para ahli itu antara lain sebagai berikut :

1. Menurut Dr.Singgih Dirgagunarsa:

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.

2. Plato Dan Aristoteles, berpendapat bahwa : psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.

3. John Broadus Watson, memandang psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku tampak ( lahiriah ) dengan mengunakan metode observasi yang objektif terhadap rangsang dan jawaban ( respon ).

4. Wilhem Wundt, tokoh psikologi eksperimental berpendapat bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman – pengalaman yang timbul dalam diri manusia , seperti perasaan panca indera, pikiran, merasa ( feeling ) dan kehendak.

5. Woodworth dan Marquis

Psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas individu dari sejak masih dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar.

6. Knight dan Knight

Psychology may be defined as the systematic study of expererience and behavior human and animal , normal and abnormal, individual and social.

7. Hilgert

“ Psychology may be defined as the science that studies the behavior of men and other animals”.

Dari beberapa definisi para ahli di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari semau tingkah laku dan perbuatan individu, dalam mana individu tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya.

c Bidang – Bidang Psikologi

Ditinjau dari segi objeknya , psikologi dapat dibedakan dalam dua golongan yang besar , Yaitu :

a. Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari manusia.

b. Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari hewan, yang umumnya lebih tegas disebut psikologi hewan

Psikologi umum ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari kegiatan – kegiatan atau aktivitas – aktivitas psikis manusia pada umumnya yang dewasa , yang normal dan yang beradab ( ber – kultur ). Psikologi umum berusaha mencari dalil – dalil yang bersifat umum dari pada kegiatan – kegiatan atau aktivitas psikis. Dalam psikologi umum memandang manusia seakan – akan terlepas dari manusia yang lain.

Psikologi khusus ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari segi – segi kekhususan dari aktivitas – aktivitas psikis manusia. Hal – hal yang khusus yang menyimpang dari hal – hal yang umum dibicarakan dalam psikologi khusus.

Psikologi khusus ini ada bermacam – macam, antara lain :

1) Psikologi Perkembangan

Yaitu psikologi yang membicarakan perkembangan psikis manusia dari masa bayi sampai tua, yang mencakup :

a. Psikologi anak ( mencakup masa bayi )

b. Psikologi puber dan adolesensi ( psikologi pemuda ).

c. Psikologi orang dewasa.

d. Psikologi orang tua.

2) psikologi social

Yaitu psikologi yang khusus membicarakan tentang tingkah laku atau aktivitas – aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi social.

3) Psikologi Pendidikan

Yaitu psikologi yang khusus menguraikan kegiatan – kegiatan atau aktivitas – aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimana cara menarik perhatian agar pelajaran dapat dengan mudah diterima, bagaimana cara belajar dan sebagainya.

4) psikologi Kepribadian dan Tipologi

Yaitu psikologi yang khusus menguraikan tentang struktur pribadi manusia, mengenai tipe – tipe kepribadian manusia.

5) Psikopatologi

Yaitu psikologi yang khusus menguraikan mengenai keadaan psikis yang tidak normal ( abnormal ).

6) psikologi Kriminil

Yaitu psikologi yang khusus berhubungan dengan soal kejahatan atau kriminalitas.

7) Psikologi Perusahaan

Yaitu psikologi yang khusus berhubungan dengan soal – soal perusahaan.

Psikologi yang berusaha mempelajari jiwa manusia , ternyata banyak mendapat kesulitan, oleh karena obek penyelidikannya adalah abstrak, yang tidak diselidiki secara langsung, tetepa di selidiki keaktifan – keaktifannya yang terlibat melalui manisfesatasi tingkah laku atau perbuatan.

d. Metode – metode dalam psikologi

Suatu metode penyelidikan dalam suatu ilmu adalah suatu keharusan mutlak adanya. Obyek psikologi adalah penghayatn dan perbuatan manusia dalam alam yang kompleks dan selalu berubah. Jiwa bukanlah suatu benda yang mati, tetapi sesuatu yang hidup dinamis ; selalu berubah untuk maju menuju kesempurnaannya. Oleh karena itu penggunaan untuk sesuatu metode yang bagaimana baiknya pun pasti tidak dapat menghasilkan kebenaran yang mutlak. Sebab tiap – tiap metode apunya kelemahan disamping kelebihan – kelebihannya.

Setiap manusia dewasa yang normal meski belum mempelajari metode – metode psikologi, tetapi karena pengalaman – pengalaman hidupnya, adanya interaction dengan dunia sekitar, ia dapat memahami metode – metode tersebut. Berdasarkan pengalaman – pengalaman maka akan didapatkan metode – metode sebagai berikut :

a. Metode yang bersifat filosofis

b. Metode yang bersifat empiris

a. Metode yang bersifat filosofis ada beberapa macam yaitu :

1) Metode intuitip

Metode ini dilakukan dengan cara sengaja untuk melakukan suatu penyelidikan atau dengan cara tidak sengaja dalam pergaulan sehari – hari. Dalam keadaan yang terakhir itu kita mengadakan penilaian terhadap sesama kita atau benar – benar ingin kita ketahui keadannya, melalui kesan – kesan terhadap orang – orang tersebut.

2) Metode kontemplatif

Metode ini dilakukan dengan jalan merenungkan obyek yang akan diketahui dengan mempergunakan kemampuan berpikir kita. Alat utama yang dipergunakan adalah pikiran yang benar – benar sudah dalam keadaan obyektif. Dalam arti murni tidak bercanmpur dengan alat – alat yang lain serta tidakk tercampur pula dengan pengaruh – pengaruh dari luar yang bersifat lahiriah dan biologis.

3) Metode filosofis religius

Metode ini digunakan untuk mempergunakan materi – materi agama sebagai alat untuk meneliti pribadi manusia. Nilai – nilai yang terdapat dalam agama itu merupakan kebenaran – kebenaran absolut dan pasti benar.

b. Metode yang bersifat empiris dapt dibagi menjadi :

1. Metode observasi

Metode observasi ialah metode untuk mempelajari kejiwaan dengan sengaja mengamati secara langsung, teliti dan sistematis. Metode observer dapat melalui 3 cara yaitu :

(a) Introspeksi (retrospeksi )

Istilah “ introspeksi “ berasal dari bahasa latin : ( intro : dalam dan spektare : melihat ). Jadi pada introspeksi individu mengalami sesuatu dan ia sendiri dapat pula mengamati, mempelajari apa yang dihayati itu. Dengan kata lain, setelah penghayatan itu terjadi, individu melihat kembali pada penghayatan itu. Maka metode introspeksi sering juga disebut “retrospeksi” yang berarti melihat kembali.

Kelemahan – kelemahan dalam metode introspeksi :

a) Kesulitan pada manusia melakukan dua tugas menghayati dan mengingat kembali.

b) Pada introspeksi faktor ingatan kadang – kadang menghambat proses yaitu adanya factor – factor kelupaan dan pencaampuradukkan antar fantasi dan ingatan.

c) Kekurangan perbendaharaan bahasa didalam melukiskan kembali peristiwa – peristiwa jiwa yang sudah dan seang terjadi.

d) Kadang – kadang diragukan obyektifitasnya oleh karena adanya ketidak jujuraan ( rasa segan, malu dan perasaan – perasaan lain yang menunjukkan kelemahan sendiri ).

Karena sekalipun metode introspeksi ini mengalami kelemahan, tetapi pada umumnya masih dipertahankan, disamping mencari jalan untuk mengatasi segi subyektifitas dari metode ini. Karena itu timbul metode lain yang menggbungkan metode introspeksi dengan metode eksperimen yaitu metode “introspeksi eksperimental “.

(b) Intospeksi eksperimental

Istilah “introspeksi eksperimental” ialah suatu metode introspeksi yang dilaksanakan dengan mengadakan eksperimen – ekspermen secar sengaja dan dalam suasana yang dibuat. Metode ini merupakan penggabungan metode ntrospeksi dan eksperimenn, sebagai upaya dalam mengatasi sifat subyektifitas dari metode introspeksi.

Dalam metode introspeksi murni, hanya pemyelidikan sendiri yang menjadi obyek, dirinya sendiri yang menjadi ukuran segala – galanya, dan kesimpulan yang diambil merupkan kesimpuan individual. Karena hanya berdasarkan atas dirinya sendiri. Tetapi dalam introspeksi eksperimental tidak demikian halnya, melainkan sebaliknya. Yakni : jumlah subyek yang banyak itu dicoba, mengenai pemecahan sesuatu masalah ( problem solving ).

(c) Ekstrospeksi

Arti kata ekstrospeksi adalah melihat keluar ( extro = keluar, dan speksi berasal dari bahasa latin, spektare = melihat ). Jadi ekstrospeksi adalah suatu metode dalam ilmu jiwa yang berusaha untuk menyelidiki atau mempelajari dengan sengaja dan teratur gejala – gejala jiwa sendiri dengan membandingkan gejala diri orang lain dan mencoba mengambil kesimpulan dengan melihat gejala – gejala jiwa yang ditunjukkan dari mimik dan pantomimik orang lain.

2. Metode pengumpulan bahan

Dengan teknik ini dimaksudkan suatu penyelidikan yang dilakukan dengan mengolah data – data yang didapat dari kumpulan daftar pertanyaan dan jawaban (angket), bahan – bahan riwayat hidup ataupun bahan – bahan lain yang berhubungan dengan apa yang sedang diselidiki. Data – data yang diperleh kemudian diklasifikasikan untuk kemudian ditarik kesimpulan. Dalam rangka mendapatkan data dengan teknik pengumpulan bahan ini peneliti / penyelidik dapat menempuh dengan melalui tiga cara :

(a) Angket – interview

Pada metode observasi dengan teknik ekstrospeksi , observasi mungkin mengadakan “ Tanya jawab langsung “ secara lisan kepada subyek yang diselidiki,sehingga ia memakai ‘’tehnik interview’’. Sedangkan untuk mendapatkan jawaban tertulis atas pertanyaan-partanyaan yang sudah di susun sebelumnya, di tempuh dengan ’’ tehnik angket’’. Dengan demikian jelas, bahwa metode angket ialah suatu penyelidikan yang di laksanakan dengan menggunakan daftar pertanyaan mengenai gejala-gejala kejiwaan yang harus di jawab oleh orang banyak, sehingga berdasakan jawaban yang diperoleh itu, dapat diketahui keadaan jiwa seseorang.

(b) Metode biografiih hidup maupun sudah meninggal.

Metode ini merupakan tulisan atau perihal kehidupan seseorang , baik sewaktu ia masih hidup aupun sudah meninggal. Dalam metode ini, seseorang menguraikan tentang keadaan,sikap ataupun sifat-sifat lain mengenai orang yang bersangkutan. Oleh karena itu,metode biografi ini sangat penting bagi ilmu jiwa. Misalnya tentang biografi orang-oran terkenal.

Ada dua macam versi tulisan dalam metode ini yakni : tulisan dalam buku harian diri sendiri yang ditulis oleh orangnya sendiri, an selanjutnya disebut ‘’ Autobiografi ‘’,(bahasa latin :auto=sendiri ; bio =hidup , dan graphere =menulis ). Dan versi kedua disebut ‘’Biografi ‘’, artinya: tentang riwayat hidup seseorang ,yang ditulis oleh orang-orang tertentu. Termasuk dalam metode biografi adalah : mempelajari surat-surat,buku-buku dan lainnya.

Beberapa kelemahan dalam pengumpulan data atas autobiografi, adalahyang lebih obyektif dapat di tempuh dengan kembali pada subyektivitas. Oleh karena si pengarang tidak selamanya memberikan gambaran yang sebenarnya.

Sifat subyektivitas sedikit banyak akan dijumpai dalam metode ini, maka untuk mengatasi guna untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif dapat ditempuh dengan menyelidiki biografi dari bermacam-macam penulis, sehingga dengan demikian dapat mendapatkan bahan yang lebih lengkap.

(c) Metode pengumpulan bahan

Metode pengumpulan bahan adalah suatu metode yang dilaksanakan dengan jalan mengumpulan bahan terutama pengumpulam gambar-gambar yang di buat anak-anak. Untuk itu, maka dikumpulkan segala macam permainan yang dipakai oleh anak-anak pada usia-usia tertentu, sehingga dari segala macam permainan itu akhirnya dicoba dibuat satu kesimpulan tentang permainan-permainan anak pada usia tertentu.Biasanya ‘’metode pengumpulan bahan ‘’ ini dilakukan dalam rangka untuk mengetahui keadaan jiwa anak. Yang dikumpulkan adalah hasil karya subyek. Baik hasil karya yang konkret mupun hasil karya yang abstrak. Dari hasil karya itulah diketahui kira-kira watak isi hatinya subyek.

3. Metode eksperimen (percobaan)

Istilah eksperimen(percobaan) dalam psikologi berarti pengamatan secara teliti terhadap gejala-gejala jiwa yang kita timbulkan dengan sengaja. Hal ini dimaksudkan untuk ‘’menguji’’ hipotesa pembuat eksperimen tentang reaksi-reaksi individu atau kelompok dalam suatu situasi tertentu di bawah kondisi tertentu. Jadi tujuan eksperimen ialah : untuk mengetahui sifat-sifat umum dari gejala-gajala kejiwaan. Misalnya menganai pikiran, perasaan, kemauan, ingatan, fantasi dan lain sebagainya. Dengan melalui metode ini pula dapat diketahui perbedaan individual dalam kemampuan mental, bakat dan watak seseorang. Oleh karena itu eksperimen amat berguna dalam psikologi umum.

Menurut Wundt eksperimen itu dapat dikatakan baik kalau memenuhi syarat sebagai berikut :

a. Yang diselidiki hendaklah satu proses kejiwaan saja, dan dilaksanakan secara terpisah.

b. Eksperimen hendaknya dapat diulang –ulang menurut kemauan penyelidik, sehingga hasilnya dapat di banding-bandingkan.

c. Situasinya harus dapat diubah menurut keadaanya.

d. Sedapat-dapatnya gejala-gejala kejiwaan itu di ukur secara objektif.

Kelemahan- kelemahan :

a. Eksperimen biasanya di laksanakan pada benda mati yang mempunyai hukum-hukum yang tetap, sedang jiwa adalah sesuatu yang hidup.

b. Tidak semua gejala kejiwaan dapat diselidiki secara eksperimen.

c. Dalam laboratorium situasinya tidak wajar.

d. Gejala-gejala kejiwaan sukar untuk diukur secara eksak.

Oleh Wundt eksperimen itu harus memenuhi syarat –syarat sebagai berikut :

a. Pemeriksaan harus dapat menetapkan sendiri saat timbulnya keadaan atau kejadian yang hendak di pelajarinya.

b. Pemeriksa harus mengikuti jalannya kejadian itu seteliti- telitinya dengan memusatkan seluruh perhatian kepada prosesnya.

c. Tiap-tiap pemerikasaan harus dapat diulangi secukupnya, yaitu dalam keadaan sama.

d. Pemeriksa harus manguasai syarat-syarat tersebut di atas.

4. Metode klinis (kline= tempat tidur; klinoo= berbaring, kliniek = lembaga untuk meneliti dan menyembuhkan penyakit).

Metode klinis ialah, nasihat dan bantuan kedokteran, yang diberikan kepada para pasien, oleh ahli kesehatan. Metode klinis yang diterapakan dalam psikologi ialah : kombinasi dari bantuan klinis medis dengan metode pendidikan, untuk melakukan observasi terhadap para pasien. Observasi dilakukan dalam ruang-ruang klinik dengan fasilitas yang cukup, untuk meneliti segala tingkah laku pasien.

Metode klinis sering di gunakan oleh para psikolog (Freud dan pengikut-pengikutnya) dan psilolog anak. Sebab orang memaklumi,bahwa para penderita gangguan jiwa dan anak-anak kecil, pada umumnya tidak mampu melakukan introspeksi terhadap dorongan-dorongan dan tingkah laku sendiri. Sehingga pada mereka perlu diterapkan metode klinis. Sebab dengan metode klinis ini dapat dilakukan observasi yang ketat terhadap gejala-gejala ketidaksadaran dan gejala dibawah sadar,yang di manifestasikan dalam aneka tingkah laku yang aneh-aneh.

5. Metode Interview

Interview merupakan metode penelitian dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan. Kalau pada angket pertanyaan-pertanyaan diberikan secara tertulis, maka pada interview pertanyaan-pertanyaan di berikan secara lisan. Karena itu antara interview dan angket terdapat hal-hal yang sama disamping adanya perbedaan-perbedaan. Baik angket maupun interview kedua-keduanya menggunakan pertanyaan-pertanyaan, tetapi berbeda dalam penyajiannya. Apbila kedua metode ini dibandingkan maka pada interview terdapat keuntungan-keuntungan disamping kelemahan-kelemahan.

Keuntungan-keuntungannya antara lain ialah :

v Pada interview hal-hal yang kurang jelas dapat diperjelas, sehingga orang dapat mengerti apa yang dimaksudkan. Keadaan ini tidak terdapat pad angket.

v Pada interview pada penginterview dapat menyesuaikan dengan keadaan yang diinterview. Pada angket keadaan ini tidak mungkin.

v Dalam interview adanya hubungan yang langsung (face to face) karena itu diharapkan dapat menimbulkan suasana hubungan yang baik, dan itu akan memberikan bantuan dalam mendapatkan bahan-bahan. Tetapi kalau hubungan tidak baik, maka hal ini akan menghambat proses interview.

Kelemahan-kelemahannya antara lain ialah :

v Penyelidikan dengan interview kurang hemat, baik dalam soal waktu maupun tenaga, sebab dengan interview membutuhkan waktu yang lama.

v Padaa interview dibutuhkan keahlian, dan untuk memenuhi ini dibutuhkan waktu untuk mendapatkan didikan atau latihan yang khusus.

v Pada interview bila telah ada prasangka maka ini akan mempengaruhi interview sehingga hasilnya tidak obyektif.

6. Metode testing

Metode ini merupakan metode penyelidikan yang menggunakan soal-soal ,pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas lain yang telah distandardisasikan. Dilihat dari caranya orang mengerjakan test seakan –akan seperti eksperimen, namun kedua ini berbeda.

Metode test mulai terkenal setelah hasil kerja dari Binet. Pada tahun 1904 Binet mendapatkan tugas dari Pemerintah Perancis ( b.q. yang mengurusi bidang pendidikan dan pengajaran ) untuk mengadakan penyelidikan terhadap anak-anak yang mengalami kelambatan dalam pelajaran bila dibandingkan dengan teman-temannya yang sebaya. Berdasarkan atas hasil penyelidikan Binet anak-anak yang tidak dapat mengikuti pelajaran seperti anak-anak lain,ternyata mereka itu kurang normal.

Test yang dipergunakan untuk menyelidiki tentang bakat seseorang disebut “aptitude test” atau test bakat. Kalau test dipergunakan untuk mengetahui tentang kecepatan orang mengerjakan sesuatu, test itu disebut “speed test” atau test kecepatan. Sedangkan kalau test yang dipergunakan untuk mengetahui power atau kemampuan seseorang, test itu disebut “power test” . kalau test yang dipergunakan untuk mengetahui sampai dimana kemampuan individu didalam mengadakan “performance” terhadap sesuatu “training” atau sesuatu yang telah pernah diterimanya maka test ini merupakan “ achievement test”.

Test sebagai metode penyelidikan disamping mempunyai keuntungan juga terdapat kelemahan.

Keuntungan yang diperoleh ialah :

- Dengan menggunakan test orang dapat mengetahui gambaran atau keadaan dari orang yang ditest, sudah memberikan ancer-ancer yan sedikit banyak telah berguna dalam menentukan langkah-langkah lebih lanjut.

e. Hakikat Psikologi

Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku dan proses mental. Berbagai topik yang dibahas dalam definisi ini diilustrasikan dengan membicarakan lima masalah spesifik: (a) persepsi otak terbelah, dimana orang dengan hemisfer kanan dan kiri yang terputus merasakan dunia secara berbeda dari orang dengan kedua hemisfer yang terkoneksi; (b) rasa takut terkondisikan dimana suatu organisme belajar untuk merasa takut dengan apa yang dahulu merupakan stimulus netral; (c) amnesia masa anak-anak, ketidak mampuan mengingat peristiwa dari beberapa tahun pertama kehidupan; (d) penyebab obesitas, termasuk faktor psikologi dan biologi dan; (e) ekspresi agresi, apakah ekspesi tersebut menyebabkan peningkatan atau penurunan agresi.

Akar psikologi dapat ditelusuri pada abad ke empat dan kelima sebelum masehi. Ahli filsafat yunani Socrates, Plato, dan Aristoteles mengajukan pertanyaan fundamental tentang pikiran, sedangkan Hipocrates, “bapak kedokteran” melakukan banyak observasi penting tentang bagaimana otak mengendalikan organ lain. Psikologi ilmiah lahir dalam akhir abad kesembilanbelas, saat gagasan menyatakan bahwa pikiran dan perilaku dapat menjadi subyek analisis ilmiah.

Ilmu psikologi dapat dipandang dari beberapa sudut pandang. Prespektif biologi mengkaitkan tindakan manusia dengan peristiwa yang terjadi didalam tubuh terutama diotak dan sistem syaraf. Prespektif perikau mengurusi hanya peristiwa eksternal dari organisme yang dapat diobservasi dan diukur. Prespektif kognitif mengurusi proses mental, seperti perasaan, pengingatan, penalaran, pemutusan, pemecahan masalah, serta proses kaitan tersebut dengan perilaku. Prespektif psikoanalitik menekankan motif bawah sadar yang berasal dari impuls sosial dan agresif yang ditekan pada masa anak-anak. Prespektif fenomenologis memfokuskan pada pengalaman subyektif seseorang dan motivasi kearah aktualisasi diri. Bidang-bidang penelitian psikologi sering kali dapat dianalisis dari sejumlah sudut pandang tersebut.

Prespektif biologi berbeda dari sudut pandang lain karena prinsip-prinsipnya diambil biologi. Seringkali para peneliti biologi berupaya menjelaskan prinsip psikologi dalam pengertian biologis. Walaupun reduksionisme tersebut dapat berhasil, terdapat beberapa prinsip yang dapat dinyatakan hanya pada ttingkat psikologis. Juga reset psikologi sering kali diperlukan untuk mengarahkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dibidang prespektif biologi.

Jika dapat diterapkan, metode eksperimen dipilih untuk meneliti masalah karena metode ini dapat mengendalikan semua variabel kecuali yang sedang diteliti. Variabel independen (variabel bebas) adalah variabel yang dimanipulasi oleh peneliti, variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel yang sedang diteliti untuk menentukan apakah variabel ini dipengaruhi oleh perubahan pada variabel independen. Dalam rancangan eksperimen sederhana peneliti memanipulasi satu variabel independen dan mengobservasi pengaruhnya pada variabel dependen.

Dalam banyak eksperimen, variabel independen adalah sesuatu yang ada atau tidak ada. Rancangan eksperimen paling sederhana melibatkan satu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Jika perbedaan dalam rata-rata antara kelompok eksperimen dan rata-rata adalah bermakna secara statistik ini bermakna bahwa kondisi eksperimen memiliki efek yang dapat dipercaya artinya perbedaan itu disebabkan oleh variabel independen bukan karena faktor kemungkinan.

Jika peneliti mampu mengendalikan subyek mana yang masuk kekondisi yang bagaimana maka digunakan metode korelasional. Metode ini menentukan apakah perbedaan yang terjadi secara alami berhubungan dengan perbedaan yang dimaksud lainnya. Derajat korelasi antara dua variabel diukur dengan koefisien korelasi ( r ). r adalah angka antara 0 dan 1. tidak ada hubungan (korelasi) dinyatakan oleh 0, hubungan yang sempurna dinyatakan oleh 1. Saat r bergerak dari 0 ke 1, kekuatan korelasi meningkat. Koefisien korelasi dsapat positif atau negatif tergantung pada apakah satu variabel meningkat bersamaan dengan peningkatan variabel lain (+) atau satu variabel menurun saat variabel lain meningkat (-).

Pendekatan lain dalam riset adalah metode observasi dimana peneliti mengobservasi venomena yang dimaksud. Para peneliti harus terlatih untuk mengobservasi dan mencatat secara akurat serta menghindari masuknya bias pribadi ke dalam laporan penelitian. Venomena yang sulit untuk diobservasi secara langsung dapat diobservasi secara tidak langsung dengan survei (kuesioner dan wawancara) atau dengan merekonstruksi riwayat kasus.

Psikologi sebagai suatu profesi mencakup banyak bidang spesialisasi antara lain psikologi biologi, psikologi eksperimental, psikologi perkembangan, sosial dan kepribadian, psikologi klinis dan konseling, psikologi sekolah dan pendidikan, serta psikologi industri dan rekayasa.

Terdapat sejumlah pendekatan interdisiplin untuk mempelajari pikiran dan perilaku, termasuk ilmu kognitif dan psikilogi evolusioner. Ilmu kognitif mempelajari sifat proses kecerdasan, dan selain dari psikologi yang melibatkan disiplin neuroscience, antropologi, linguistik, philosofi dan kecerdasan artivisial. Gagasan utamanya adalah bahwa poses mental dapat dipahami sebagai komputasi dan aktivitas mental dapat dianalisis pada berbagai tingkat. Psikologi evolusioner mengurusi asal mula mekanisme psikologis. Gagasan utamanya adalah bahwa mekanisme tersebut telah berkembang selama jutaan tahun melalui proses seleksi alam. Pendekatan ini telah menyebabkan para ahli psikologi melihat topik tertentu yang berkaitan dengan kepentingany evolusioner, seperti pemilihan pasangan.

2.2 Proses – Proses Mental Atau Proses Psikologi

1. Persepsi

a. Fungsi Dasar Psikologi/Persepsi

a. Untuk mempersepsi stimulus mana menjadi figure dan mana yang ditinggalkan sebagai ground, ada beberapa prinsip pengorganisasian. Prinsip proximity; seseorang cenderung mempersepsi stimulus-stimulus yang berdekatan sebagai satu kelompok.

b. Persepsi [perception] merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi, kalau bukan dikatakan yang paling penting. Melalui persepsilah manusia memandang dunianya. Apakah dunia terlihat “berwarna” cerah, pucat, atau hitam, semuanya ada.

b. Prinsip Persepsi

Fungsi Dasar Psikologi/Persepsi

Sebagian besar dari prinsip-prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian-bagian yang diindera seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan kesel.

2. Ingatan

Proses untuk menerima / memasukkan , menyimpan dan mengeluarkan kembali hal-
hal yang telah lampau.

Ø Faktor-faktor yang mempengaruhi :
• Perhatian
• Kondisi jasmani
• Usia
- Ingatan paling tajam usia 10 – 14 tahun.

Tahap Ingatan :
1. Memasukkan informasi ke dalam otak (Encoding)
2. Menyimpan informasi (Storage)
3. Mengingat Kembali (Retrival)

Skema Ingatan :
• Penyusunan kode => Penyimpanan => Pengingatan kembali
• Memasukkan dalam ingatan => Memperhatikan dalam ingatan => Memperoleh ingatan
Kegagalan dalam satu atau lebih dari ketiga tahapan ini disebut LUPA (teori Modern)

v Metode menghafal :

a. Metode G (Ganzlern)
Cara belajar secara keseluruhan / menghafal secara keseluruhan

b. Metode T (Teillern)
Metode belajar secara bagian per bagian

c. Metode V (Vermittelende)
Metode pengantar : belajar ada yang secara keseluruhan dan ada yang pembagian

v Cara Menghafal :
a. Artificial / buatan ; co: jembatan keledai
b. Tidak sengaja, mekanis dan otomatis ; co: menghafal lagu
c. Intelektual ; kegiatan penalaran dengan menggunakan akal budi, termasuk pemahaman mengenai segala sesuatu; co: menghafal mata kuliah

v Jenis-jenis Ingatan :

a. Memori Sensoris : merupakan proses penyimpanan memori melalui syaraf-syaraf sensoris dalam waktu yang pendek

b. Memori Jangka Pendek : merupakan suatu proses penyimpanan memori sementara atau disebut juga Working Memory, karena informasi yang disimpan hanya dipertahankan selama informasi itu dibutuhkan

c. Memori Jangka panjang : merupakan suatu proses penyimpanan informasi secara permanen.

3 Motif dan Motivasi

A. Instrumen wawancara/daftar pertanyaan

1. Motif dan Motivasi Siswa dalam Belajar
- Mengetahui apa pengertian motif dan motivasi itu sendiri.
- Dengan cara apa memberikan motivasi pada siswa untuk giat dalam belajar?
- Motif yang paling mudah memberikan pengajaran?
- Solusi bagi siswa yang tidak ada motivasi dalam belajar?
- Membangkitkan motivasi pada siswa yang stress dan frustasi?

2. Potensi Bawaan Siswa
- Apa perbedaan antara bakat dengan potensi?
- Setiap orang memiliki potensi, darimana segi apa hal itu dijelaskan?
- Lalu apa bedanya dengan talenta?
- Apa beda kepercayaan dan keyakinan?
- Tidakkah menutup kemungkinan anak kembar punya potensi dan bakat yang sama?

3. Pengaruh Lingkungan Belajar Siswa

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis,termasuk didalamnya adalah belajar.

Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya.Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia disekitarnya.

- Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, jelaskan?

- Lingkungan membuat dan membentuk individu sebagai makhluk sosial, jelaskan?

- Lingkungan membuat wajah budaya bagi individu?

- Manusia hidup adalah manusia yang berfikir dan serba ingin tahu serta mencoba-coba terhadap segala apa yang tersedia di alam sekitarnya, bagaimana lingkungan memiliki peranan bagi individu?

- Seperti apa pengaruh lingkungngan yang beraneka ragam?

4.Keunikan Pribadi Siswa

- Mengapa ada orang yang doyan bekerja, tapi ada juga yang malas bukan main? Ada orang yang berani mengambil resiko, tapi ada yang penakut?

- Dilihat dari sisi mana makhluk hidup yang bernama manusia mempunyai keunikan?

- Adakah manusia yang memiliki keunikan yang sama?

- Bagaimana dengan "orang bisu" dari mana keunikannya?

- Apalagi jika dihubungkan dengan orang yang tidak lagi waras, dari sisi mana keunikan itu?


4. Teori-Teori Belajar
1. Teori belajar Behaviorisme

Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.

Prinsip-prinsip teori behaviorisme

- Obyek psikologi adalah tingkah laku

- semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek

- mementingkan pembentukan kebiasaan

Aristoteles berpendapat bahwa pada watu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, seperti sebuah meja lilin yang siap dilukis oleh pengalaman. Menurut John Locke(1632-1704), salah satu tokoh empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai ”warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya jalan ke pemilikan pengetahuan. Idea dan pengetahuan adalah produk dari pengalaman. Secara psikologis, seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan tempramen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Pikiran dan perasaan disebabkan oleh perilaku masa lalu.

Kesulitan empirisme dalam menjelaskan gejala psikologi timbul ketika orang membicarakan apa yang mendorong manusia berperilaku tertentu. Hedonisme, memandang manusia sebagai makhluk yang bergerak untuk memenuhi kepentingan dirinya, mencari kesenangan, dan menghindari penderitaan. Dalam utilitarianismem perilaku anusia tunduk pada prinsip ganjaran

dan hukuman. Bila empirisme digabung dengan hedonisme dan utilitariansisme, maka itulah yang disebut dengan behaviorisme.

Asumsi bahwa pengalaman adalah paling berpengaruh dala pembentukan perilaku, menyiratkan betapa plastisnya manusia. Ia mudah dibentuk menjadi apa pun dengan menciptakan lingkungan yang relevan.

Thorndike dan Watson, kaum behaviorisme berpendirian: organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis; perilaku adalah hasil pengalaman dan prilaku digerakan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan.

2. Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi

Psikologi kognitif mengatakan bahwa perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada diluar dirinya, melainkan oleh faktor yang ada pada dirinya sendiri. Faktor-faktor internal itu berupa kemampuan atau potensi yang berfungsi untuk mengenal dunia luar, dan dengan pengenalan itu manusia mampu memberikan respon terhadap stimulus. Berdasarkan pada pandangan itu teori psikoloig kognitif memandang beljar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi terutama pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Dengan kata lain, aktivitas belajar manusia ditentukan pada proses internal dalam berpikir yakni pengolahan informasi.

Intisari dari teori belajar konstruktivisme adalah bahwa belajar merupakan proses penemuan (discovery) dan transformasi informasi kompleks yang berlangsung pada diri seseorang. Individu yang sedang belajar dipandang sebagai orang yang secara konstan memberikan informasi baru untuk dikonfirmasikan dengan prinsip yang telah dimiliki, kemudian merevisi prinsip tersebut apabila sudah tidak sesuai dengan informasi yang baru diperoleh . Agar siswa mampu melakukan kegiatan belajar, maka ia harus melibatkan diri secara aktif.

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu : (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or concepts by the process of assimilation”

Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru.Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :

1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.

2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

4. Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.

Teori Pemrosesan Informasi

Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik.

3. Teori Belajar Gestalt

Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :

  1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
  2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
  3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
  4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
  5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
  6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.

4. Teori Belajar Alternatif Konstruktivisme

Konstruktivism bukan merupakan satu teori yang baru dalam bidang pendidikan. Pengaruh konstruktivism dalam era teknologi maklumat dan komunikasi ini semakin kuat. Teori ini bertitik tolak daripada pandangan behaviorism yang mengkaji perubahan tingkahlaku sehingga kepada kognitivism yang mengkaji tentang cara manusia belajar dan memperoleh pengetahuan yang menekankan perwakilan mental.

Bruner (1960), telah menekankan bahawa pembelajaran merupakan satu proses di mana pelajar membina idea baru atau konsep berasaskan kepada pengetahuan semasa mereka. Pelajar memilih dan mengintepretasikan maklumat, membina hipotesis dan membuat keputusan yang melibatkan pemikiran mental (struktur kognitif seperti skema dan model mental) memberikan makna dan pembentukan pengalaman dan membolehkan individu “melangkau melebihi maklumat yang diberikan” (Beyond the information given). Hasil daripada pendekatan ini, beliau telah memperkenalkan pembelajaran penemuan (Discovery Learning).

Briner (1999) berpendapat murid membina pengetahuan mereka dengan menguji idea dan pendekatan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman sedia ada, mengaplikasikannya kepada situasi baru dan mengintegrasikan pengetahuan baru yang diperoleh dengan binaan intelektual yang sedia wujud.

Brooks & Brooks (1993) menyatakan bahawa murid membina makna tentang dunia dengan mensintesis pengalaman baru kepada apa yang mereka telah fahami sebelum ini. Mereka membentuk peraturan melalui refleksi tentang interaksi mereka dengan objek dan idea. Apabila mereka bertemu dengan objek, idea atau perkaitan yang tidak bermakna kepada mereka, maka mereka akan sama ada mengintepretasikan apa yang mereka lihat supaya secocok dengan peraturan yang mereka telah bentuk atau mereka akan menyesuaikan peraturan mereka agar dapat menerangkan maklumat baru ini dengan lebih baik. Menurut Mc Brien dan Brandt (1997), konstruktivism adalah satu pendekatan pengajaran berdasarkan kepada penyelidikan tentang bagaimana manusia belajar. Kebanyakan penyelidik berpendapat setiap individu membina pengetahuan dan bukannya hanya menerima pengetahuan daripada orang lain.

Pengetahuan dibina secara aktif oleh individu yang berfikir berdasarkan pengetahuan dan pengalaman sedia ada. Dalam proses ini, pelajar akan menyesuaikan pengetahuan yang diterima dengan pengetahuan sedia ada untuk membina pengetahuan baru dalam mindanya (PPK, 2001:9). Secara ringkasnya, teori pembelajaran konstruktrivism adalah satu fahaman bahawa pengetahuan, idea atau konsep yang baru dibina secara aktif berdasarkan kepada pengalaman lepas dan pengetahuan sedia ada dengan maklumat, idea atau konsep yang diterima sama ada bantuan kendiri, interaksi sosial atau persekitaran diselaraskan melalui proses metakognitif . Rajah 1 menunjukkan gambaran pengertian konstruktivism secara ringkasnya.Rajah 2 menunjukkan sebuah peta minda tentang pengertian konstruktivism secara kesluruhannya iaitu dari segi implikasinya ke atas pengajaran dan pembelajaran , prinsip-prinsip dan peranan guru dan pelajar .

5. Berpikir dan menyelesaikan masalah

a. Proses Berpikir

1.Berbagai cara pemecahan masalah

Berpikir selalu berhubungan dengan masalah – masalah , baik masalah – masalah yang timbul dari situasi masa kini, masa lampau dan mungkin masalah – masalah yang belum terjadi. Proses pemecahan masalah itu disebut proses berpikir. Dalam memecahkan tiap masalah timbullah dalam jiwa kita berbagai kegiatan, antara lain :

a. Kita menghadapi suatu situasi yang mengandung masalah. Pertama – tama kita mengetahui lebih dulu apa masalahnya, atau apakah yang kita hadapi itu suatu masalah.

b. Bagaimanakah masalah itu dapat dipecahkan.

c. Hal – hal manakah yang sekiranya dapat membantu pemecahan masalah tersebut.

d. Apakah tujuan masalah itu dipecahkan.

Tingkatan suatu masalah menentukan proses pemecahan yang digunakan. Tidak semua masalah sama tingkat kesukarannya dan tidak setiap masalah dapat dipecahkan dengan cara yang sama.

Dari bermacam – macam masalah ada pula bermacam – macam cara pemecahan , antara lain

- dengan instink

- dengan kebiasaan – kebiasaan.

- dengan aktivitas piker.

2. Proses Berpikir dan kegiatan jiwa dalam berpikir

a. Proses berpikir dalam memecahkan masalah.

- ada minat untuk memecahkan masalah.

- memahami tujuan pemecahan masalah.

- mencari kemungkinan – kemungkinan pemecahan.

- menentukan kemungkinan mana yang digunakan .

- melaksanakan kemungkinan yang dipilih untuk memecahkan masalah.

b. Dalam proses berpikir timbul kegiatan – kegiatan jiwa.

- membentuk pengertian.

- membentuk pendapat.

- Membentuk kesimpulan.

c. Bentuk – bentuk Berpikir

1. Berpikir dengan pengalaman (routin thinkin)

Dalam bentuk berpikir ini giat menghimpun berbagai pengalaman,dari berbagai pengalaman pemecahan yang kkita hadapi. Kadang-kadang satu pengalaman dipercaya atau dilengkapi oleh pengalaman-pengalaman yang yang lain.

2. Berpikir representative

Dengan berpikir representatif, kita sangat bergantung pada ingatan-ingatan dan tangggapan-tanggapan saja. Tanggapan-tanggapan dan imgatan tersebut kita gunakan untuk memecahkan masalah yang kita hadapi.

3.Bepikir kreatif

Dengan berpikir kreatif,kita dapat menghasilkan sesuatu yang baru, menghasilkan penemuan-penemuan baru. Kalau kegiatan berpikir kita untuk menghasilkan ssesuatu dengan menggunakan metode-metode yang telah dikenal, maka dikatakan berpikir produktif, bukan kreatif.

4. Berpikir reproduktif

Dengan berpikir ini kita tidak menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi hanya sekedar memikirkan kembali dan mencocokkan dengan sesuatu yang telah dipikirkan sebelumnya.

5. Berpikir rasional

Untuk menghadapi suatu situasi dan memecahkan masalah digunakan cara-cara berpikir logis. Untuk berpikir ini tidak hanya sekedar mengumpulkan pengalaman dan membanding-bandingkan hasil berpikir yang telah ada, melainkan dengan kreatifan akal kita memecahkan masalah.

6. Tingkat-tingkat berpikir

Aktivitas berpikir tidak pernah lepas dari suatu situasi atau masalah. Gejala berpikir tidak berdiri sendiri, dalam aktifitasnya membutuhkan bantuan dari gejala jiwa yang lain. Misalnya :pengamatan,tanggapan, ingatan dan sebagainya.

Aktifitaf berpikir sendiri adalah abstrak. Namun demikian dalam praktek sering kita jumpai bahwa tifdak semua masalah dapat dipecahkan dengan secara abstark. Dalam menghadapi masalah-masalah yng sangat pelik, kadang-kadang kita membutuhkan supaya masalah yang kjta hadapi menjadi lebih konkrit. Sehubungan dengan ini memang ada beberapa tingkat berpikir :

1. Berpikir konkrit

2. Berpikir skematis

3. Berpikir abstrak

6. Emosi dan Perasaan

1. Pengertian Perasaan

Perasaan termasuk gejala jiwa yang dimiliki oleh semua orang, hanya corak dan tingkatannya tidak sama. Perasaan ialah suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungan dengan peristiwa mengenal dan bersifat subyektif. Jadi unsur-unsur perasaan itu ialah :

- bersifat subyektif dari pada gejala mengenal

- bersangkut paut dengangejala mengenal

- perasaan dialami sebagai rasa senang atau tidak senang, yang tingkatanya tidak sama.

Perasaan lebih erat hubungannya dengan pribadi seseorang ddan berhubungan pula dengan gejala-gejala jiwa yang lain. Oleh sebab itu tanggapan perasaan seseorang terhadap sesuatu tidak sama.

Gejala perasaan kita tergantung pada :

a. Keadaan jasmani, misalnya badan kita dalam keadaan sakit, perasaan kita lebih mudah tersinggung dari pada kalai badan kita dalam keadaan sehat dan segar.

b. Pembawaan, ada orang yang mempunyai pembawaan berperasaan halus, sebaliknya ada pula yang kebal perasaan.

c. Perasaan seseorang berkembang sejak ia mengalami sesuatu. Karena mudah dimengerti bahwa keadaan yang pernah mempengaruhi dapat memberikan corak dalam perkembangan perasaanya. Selain perasaan tersebut di atas masih banyak hal-hal lain yang dapat mempengaruhi perasaan manusia, misalnya keadaan keluarga, jabatan, pergaulan sehari-hari, cita-cita hidup dan sebagainya. Dalam kehidupan modern banyak macam-macam alat yang dipergunakan untuk memperkaya rangsang emosi, seperti : televise, radio, film, gambar, majalah-majalah dan sebagainya.

2. Tiga Dimensi Perasaan Menurut Wundt

a) Perasaan-perasaan presens, yaitu yang bersangkutan dengan keadaan – keadaan sekarang yang dihadapi.

b) Perasaan – perasaan yang menjangkau maju, merupakan jangkauan kedepan dalam kejadian-kejadian yang akan datang, jadi masih dalam pengharapan.

c) Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan waktu-waktu yang telah lalu, atau melihat ke belakang yang telah terjadi.Misalnya orang merasa sedih,karena teringat pada waktu zaman ke-emasannya beberapa tahun yang lampau( Kohnstamm,Bigot dan Palland,1950 ).

3. Perasaan dan Gejala – Gejala Kejasmanian

Tanggapan – tanggapan tubuh terhadap perasaan dapat terwujud :

· Mimik, gerak roman muka

· Pantomimik, gerakan-gerakan anggota badan bagi orang bisu,tuli, terdiri dari gerakan-gerakan yang termasuk mimik dan pantomimik.

· Gejala padaa tubuh, seperti denyut jantung bertambah cepat dari biasanya, muka menjadi pucat dan sebagainya.

4. Macam-Macam Perasaan

Dalam kehidupan sehari – hari sering didengar adanya perasaan yang tinggi dan perasan yang rendah.

Max Scheler mengajukan pendapat bahwa ada 4 macam tingkatan dalam perasaan yaitu :

v Perasaan tingkat sensoris

Perasaan ini merupakan perasaan yang berdasarkan atas kesadaran yang berhubungan dengan stimulus pada kejasmanian, misalnya rasa sakit, panas,dan dingin.

v Perasaan ini bergantung kepada keadaan jasmani seluruhnya, misalnya rasa segar, lelah dan sebagainya.

v Persasaan kejiwaan

Perasaan ini merupakan perasaan seperti rasa gembira, susah, takut.

v Perasaan kepribadian

Perasaan ini merupakan perasaan yang berhubungan dengan keseluruhan pribadi, misalnya perasaan harga diri perasaan putus asa, perasaan puas.

Disamping itu Kohnstamm memberikan klasifikasi perasaan sebagai berikut :

1). Perasaan keinderaan

Perasaan ini adalah perasaan yang berhubungan dengan alat-alat indera, misalnya perasaan yang berhubungan dengan pencecapan, umpamanya asam asin, pahit, manis, yang berhubungan dengan bau dan sebagainya. Juga termasuk dalam hal ini perasaan-perasaan lapar, haus, sakit, lelah dan sebagainya.

2). Perasaan kejiwaan

Dalam golongan ini perasaan masih dibedakan lagi atas :

a. Perasaan intelektual

b. Perasaan kesusilaan

c. Perasaan keindahan

d. Perasaan kemasyarakatan

e. Perasaan harga diri

f. Perasaan ke Tuhanan

5. Suasana Hati( Affek dan Stemming )

Wilhelm Wundt, tokoh psikologi eksperimental dalam sebuah analisis introspeksi telah menemukan affek dalam 3 komponen yakni :

Ø Affek yang disertai perasaan senang dan tidak senang.

Ø Affek yang menimbulkan kegiatan jiwa atau melemahkan

Ø Affek yang berisi penuh ketegangan dan affek penuh relaks ( mengendorkan )

Sedang Immanucl kant membagi affek tersebut dalaam 2 kategori, yaitu :

1. Affek Sthenis ( sthenos = kuat, perkasa ) yang mana individu menyadari kemampuan dan kekuatan tenaganya, sehingga aktivitas jasmani dan rohani bisa dipertinggi. Misalanya dorongan untuk bekerja.

2. Affek Asthenis, ialah affek yang membawa perasaan kehilangan kekuatan, sehingga aktivitas fisik dan psikisnya terlumpuhkn karenanya. Misalnya kejutan hebat sehingga melumpuhkan diri dan lain sebagainya.

Stemming atau suasana hati dapaat diartikan sebagai suasana hati yang berlangsung agak lama, suasana hati itu pada umumnya ada dalam bawah sadar, namun ada kalanya, juga disebabkan oleh faktor jamaniah. Jika suasana ini konstan sifatnya, maka peristiwa ini disebut “humeur”.

6. Simpati dan Empati

Simpati pengertian yang sederhana adalah perasaan terhadap orang lain.Simpati ialah suatu kecenderungan untuk ikut serta merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain. Dengan kata lain: suatu kecenderungan untuk ikut serta merasakan sesuatu yang sedang dirasakan oleh orang lai. Disini ada situasi : Feeling with another person.

Simpati dapat timbu karena persamaan cita-cita, mungkin karena penderitaan yang sama, atau arena berasal dari daerah yang sam atau sebagainya.

Gejala peasaaan yang berlawanan dengan simpati ialah antipasti. Gejala perasaan ini menunjukkan ketidak senangan kepada orang lain. Ketidaksenangan ini dapat berujud suatu kebencian. Dari kebencian ini terdapat unsur berlawanan atau bermusuhan.

7. Masalah-Masalah Praktis

a) Fungsi perasaan

À Bahwa semua jenis perasaan mempunyai pengaruh yang besar kepada setiap perbuatan dan kemauan kita. Sebab, emosi-emosi ini memberikan sumbangan kepada perasaan bahagia atau rasa sendu dihati.

À Perasaan itu cepat dan mudah menular. Guru yang mempunyai stemming dasar lincah, gembira memiliki banyak humor dan simpatik akan memberikan pengaruh kepada pendidikan yang menguntungkan.

À Menyangkut perasan indriawi seperti panas, dingin, sejuk,sedapa dan lain-lain, juga perasaan vital (senang,bahagia,sedih,dll), perlu dilakukan pembiasaan, demi pengembangan kepribadian.

À Di sekolah dan di rumah senantiasa ditumbuhkan perasaan intelektual ini, dalam upaya untuk membangkitkan kesenangan (hobbi) belajar.

b) Emosi dan perkembangan pribadi

Karena emosi berpengaruh terhadap kejiwaan kita, berarti berpengaruh juga terhadap kemauan dan perbuatan. Maka gejala jiwa itu beerpengaruh pula terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi.

a. Kekuatan perasaan dapat diperkuat dan dapat diperlemah. Kemungkinan perasaan semacam itu memberi kesempatan yang baik kepada usaha-usah pendidikan.

Dalam rangka pembentukan pribadi anak perlu dikembangkan perasaan-perasaaan yang baik, luhur, dan positif. Misalnya : perasaan ke Tuhanan, sosial, keindahan, intrielk,harga diri dan kesusilaan.

b. Pendidikan perasaan adalah sangat penting. Usahakanlah suasana dan rangsang-rangsang yang dapat membangun dan mengembangkan perasaan yang baik dan luhur, dan tiadakanlah perasaan yang merangsang timbulnya perasaan rendah dan negatif. Misalnya : perasaan takut, giris kecil hati, dendam, iri, khawatir, dan sebagainya.

c. Karena emosi mempunyai sifat mejalar/menular/merembet, maka jangaan membawakan emosi-emosi yang negatif dalam hubungannya dengan sesama, baik dalam pergaulan pendidikan maupun dalam pergaulan pada umumnya.

2.3Tingkat Kesadaran

a. Stres dan Depresi

Stres dan depresi, yang dianggap sebagai penyakit zaman kita, tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tapi juga mewujud dalam berbagai kerusakan tubuh. Gangguan umum yang terkait dengan stres dan depresi adalah beberapa bentuk penyakit kejiwaan, ketergantungan pada obat terlarang, gangguan tidur, gangguan pada kulit, perut dan tekanan darah, pilek, migrain [sakit kepala berdenyut yang terjadi pada salah satu sisi kepala dan umumnya disertai mual dan gangguan penglihatan] , sejumlah penyakit tulang, ketidakseimbangan ginjal, kesulitan bernapas, alergi, serangan jantung, dan pembengkakan otak. Tentu saja stres dan depresi bukanlah satu-satunya penyebab semua ini, namun secara ilmiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan-gangguan kesehatan semacam itu biasanya bersifat kejiwaan.

Stres, yang menimpa begitu banyak orang, adalah suatu keadaan batin yang diliputi kekhawatiran akibat perasaan seperti takut, tidak aman, ledakan perasaan yang berlebihan, cemas dan berbagai tekanan lainnya, yang merusak keseimbangan tubuh. Ketika seseorang menderita stres, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan tanda bahaya, sehingga memicu terjadinya beragam reaksi biokimia di dalam tubuh: Kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat; penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah; tekanan darah meningkat dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik, dan semua ini memunculkan masalah bagi tubuh.

Oleh karena stres yang parah, khususnya, mengubah fungsi-fungsi normal tubuh, hal ini dapat berakibat sangat buruk. Akibat stres, kadar adrenalin dan kortisol di dalam tubuh meningkat di atas batas normal. Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama berujung pada kemunculan dini gangguan-gangguan seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan, penyakit pernapasan, eksim dan psoriasis [ sejenis penyakit kulit yang ditandai oleh pembentukan bintik-bintik atau daerah berwarna kemerahan pada kulit, yang tertutupi oleh lapisan tanduk berwarna perak] . Kadar kortisol yang tinggi dapat berdampak pada terbunuhnya sel-sel otak. Sejumlah gangguan akibat stres digambarkan dalam sebuah sumber sebagaimana berikut:

Terdapat kaitan penting antara stres dan tegang [penegangan], serta rasa sakit yang ditimbulkannya. Penegangan yang diakibatkan stres berdampak pada penyempitan pembuluh darah nadi, gangguan pada aliran darah ke daerah-daerah tertentu di kepala dan penurunan jumlah darah yang mengalir ke daerah tersebut. Jika suatu jaringan mengalami kekurangan darah hal ini akan langsung berakibat pada rasa sakit, sebab suatu jaringan yang di satu sisi mengalami penegangan mungkin sedang membutuhkan darah dalam jumlah banyak dan di sisi lain telah mendapatkan pasokan darah dalam jumlah yang kurang akan merangsang ujung-ujung saraf penerima rasa sakit. Di saat yang sama zat-zat seperti adrenalin dan norepinefrin, yang mempengaruhi sistem saraf selama stres berlangsung, juga dikeluarkan. Hal ini secara langsung atau tidak langsung meningkatkan dan mempercepat penegangan otot. Demikianlah, rasa sakit berakibat pada penegangan, penegangan pada kecemasan, dan kecemasan memperparah rasa sakit.

Akan tetapi, salah satu dampak paling merusak dari stres adalah serangan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang agresif, khawatir, cemas, tidak sabar, dengki, suka memusuhi dan mudah tersinggung memiliki peluang terkena serangan jantung jauh lebih besar daripada orang yang tidak memiliki kecenderungan sifat-sifat tersebut.

Alasannya adalah bahwa rangsangan berlebihan pada sistem saraf simpatetik [yakni sistem saraf yang mengatur percepatan denyut jantung, perluasan bronkia, penghambatan otot-otot halus sistem pencernaan makanan, dsb.], yang dimulai oleh hipotalamus, juga mengakibatkan pengeluaran insulin yang berlebihan, sehingga menyebabkan penimbunan kadar insulin dalam darah. Ini adalah permasalahan yang teramat penting. Sebab, tak satu pun keadaan yang berujung pada penyakit jantung koroner memainkan peran yang sedemikian paling penting dan sedemikian berbahaya sebagaimana kelebihan insulin dalam darah.

Para ilmuwan telah mengetahui bahwa semakin parah tingkat stres, maka akan semakin lemahlah peran positif sel-sel darah merah di dalam darah. Menurut sebuah penelitian yang dikembangkan oleh Linda Naylor, pimpinan perusahaan alih teknologi Universitas Oxford, pengaruh negatif berbagai tingkatan stres pada sistem kekebalan tubuh kini dapat diukur.

Terdapat kaitan erat antara stres dan sistem kekebalan tubuh. Stres kejiwaan memiliki dampak penting pada sistem kekebalan dan berujung pada kerusakannya. Saat dilanda stres, otak meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh, yang melemahkan sistem kekebalan. Atau dengan kata lain, terdapat hubungan langsung antara otak, sistem kekebalan tubuh dan hormon. Para pakar di bidang ini menyatakan:

Pengkajian terhadap stres kejiwaan atau stres raga telah mengungkap bahwa selama stres berat berlangsung terjadi penurunan pada daya kekebalan yang berkaitan dengan keseimbangan hormonal. Diketahui bahwa kemunculan dan kemampuan bertahan dari banyak penyakit termasuk kanker terkait dengan stres.

Singkatnya , stres merusak keseimbangan alamiah dalam diri manusia. Mengalami keadaan yang tidak normal ini secara terus-menerus akan merusak kesehatan tubuh, dan berdampak pada beragam gangguan fungsi tubuh. Para ahli menggolongkan dampak buruk dari stres terhadap tubuh manusia dalam sejumlah kelompok utama sebagaimana berikut:

- Cemas dan Panik: Suatu perasaan yang menyebabkan peristiwa tidak terkendali.

- Mengeluarkan keringat yang semakin lama semakin banyak

- Perubahan suara: Berbicara secara gagap dan gugup

- Aktif yang berlebihan: Pengeluaran energi yang tiba-tiba, pengendalian diabetik yang lemah

- Kesulitan tidur: Mimpi buruk

- Penyakit kulit: Bercak, bintik-bintik, jerawat, demam, eksim dan psoriasis .

- Gangguan saluran pencernaan: Salah cerna, mual, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan

- Penegangan otot: gigi yang bergesekan atau terkunci, rasa sakit sedikit tapi terus-menerus pada rahang, punggung, leher dan pundak

- Infeksi berintensitas rendah: pilek, dsb.

- Migrain.

- Denyut jantung dengan kecepatan yang tidak wajar, rasa sakit pada dada, tekanan darah tinggi.

- Ketidakseimbangan ginjal, menahan air.

- Gangguan pernapasan, pendek napas.

- Alergi.

- Sakit pada persendian.

- Mulut dan tenggorokan kering.

- Serangan jantung.

- Melemahnya sistem kekebalan .

- Pengecilan di bagian otak.

- Perasaan bersalah dan hilangnya percaya diri.

- Bingung, ketidakmampuan menganalisa secara benar, kemampuan berpikir yang rendah, daya ingat yang lemah.

- Rasa putus asa yang besar, meyakini bahwa segalanya berlangsung buruk.

- Kesulitan melakukan gerak atau diam, memukul-mukul dengan irama tetap.

- Ketidakmampuan memusatkan perhatian atau kesulitan melakukannya.

- Mudah tersinggung dan sangat peka.

- Bersikap yang tidak sesuai dengan akal sehat.

- Perasaan tidak berdaya atau tidak berpengharapan.

- Kehilangan atau peningkatan nafsu

b. Intelegensi

Intelegensi berasal dari kata latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to organize, to relate, to bind,together).

Menurut panitian istilah paedagogik yang di maksud dengan intelegency ialah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berfikir menurut tujuannya.(Sterm, kamus gogik, 1953).

Orang yang dianggap inteligen bila responnya merupakan respons yang baik terhadap stimulus yang diterimanya.

Menurut Spearman inteligensi itu mengandung 2 macam factor yaitu :

1. “General ability” (factor G)

2. “Special ability” (factor S)

Teori dari Soearman ini dikenal dengan tewori dwi-faktor.

Pada tahun 1955 Wechsler menciptakan test intelegensi untuk orang dewasa yang dikenal dengan Wechsler Adult intelegence Scale” atau yang disingkat dengan WAIS. Mengenai test ini dibicarakan secara mendalam dalam pembicaraan mengenai psikodiagnostik.

Menurut kekuatannya, kecerdasan ada 2 macam :

a. Kecerdasan kratif : ialah kecerdasan yang berkekuatan untuk menciptakan sesuatu. Misalnya kereta api, atomdan sebagainya.

b. Kecerdasan eksekutif : ialah kecerdasan yang berkekutan untuk mengikuti pikiran orang lain. Misalnya : mempelajari cara mencetak, membuat rumah dan sebagainya.

Menurut gunanya, kecerdasan dapat di bagi 2 macam pula :

a. Kecerdasan teoritis : ialah kecerdsan untuk memecahkan soal yang bersifat teori. Misalnya bekerja di laboratorium

b. Kecerdasan praktis : ialah kecerdasan untuk mengambil tindakan atau untuk berbuat. Misalnya mengemudikan auto, sirkus, dan sebaginya.

c. Pembentukan sikap

v Sikap berkembang dalam proses pemuasan keinginan

Dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya dalam upayanya untuk memuaskan keinginannya, individu mengembangkan sikap. Dia mengembangkan sikap positif terhadap orang dan obyek yang memuaskan keinginannya. Individu akan mengembangkan sikap negatif terhadap obyek dan orang yang menghambat pencapaian tujuan-tujuannya. Sikap individu dapat memberi nilai instrumental tambahan baginya. Dia mengembangkan sikapnya dalam merespon terhadap situasi masalah - dalam upayanya untuk memuaskan keinginan tertentu. Selama sikapnya itu merupakan sistem yang bertahan lama, sikapnya tersebut akan terus dipertahankannya dan mungkin akan dipergunakannya untuk memecahkan berbagai masalah - untuk memuaskan berbagai keinginannya.Misalnya,seorang anak mungkin akan mengembangkan sikap positif terhadap politik sekedar untuk menyenangkan ayahnya yang seorang politisi profesional; sebagai seorang dewasa,sikap tersebut mungkin akan dipergunakannya untuk memuaskan keinginannya akan kekuasaan,atau untuk memperoleh prestise, atau untuk mendapatkan kekayaan materi,atau untuk membantu orang lain.

Peranan keinginan dalam pengembangan sikap terungkap jelas dalam kasus sikap sosial yang penting untuk dipahami, yaitu sikap purbasangka rasial (racial prejudice). Prejudice dapat berfungsi sebagai pembenaran atas sikap permusuhan patologis (pathological hostility), merasionalisasikan keinginan dan perilaku yang secara budaya tak dapat diterima yang terselubung dalam aspirasi yang sesuai dengan budaya, mengelola keinginan yang terepresi, meningkatkan perasaan kehormatan diri, melindungi self dari ancaman terhadap harga diri, membantu orang menjadi kaya, memberi penjelasan yang "logis" mengapa orang tetap miskin.Sikap individu dibentuk oleh informasi yang berbeda kepadanya.Sikap tidak hanya dikembangkan dalam proses pemuasan keinginan; sikap juga dibentuk oleh informasi yang terdedah (exposed) kepada individu. Akan tetapi, informasi jarang merupakan faktor penentu suatu sikap kecuali dalam konteks sikap-sikap lain. Informasi baru sering dipergunakan untuk membentuk sikap yang sejalan dengan sikap-sikap terkait yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena itu, terutama karena responsif terhadap informasi, sikap itu dapat "valid" dalam arti bahwa komponen kognisi dari sikap itu dapat sejalan dengan fakta-fakta tentang obyek sikap itu. Andaikata tidak demikian, maka individu tidak akan dapat mengatasi secara efektif banyak permasalahan yang dihadapinya sebagai seorang anggota masyarakat yang kompleks.
Akan tetapi,tidak semua sikap itu mencerminkan fakta secara benar. Sikap-sikap tertentu dapat berkembang sangat menyimpang dari fakta; misalnya takhyul, khayalan, purbasangka (prejudice). Karena sikap-sikap seperti ini sering mengakibatkan munculnya tindakan sosial yang menyusahkan, maka analisis tentang sebab-sebab terjadinya ketidaksejalanan antara fakta dan keyakinan tersebut perlu mendapat prioritas tinggi.

v Sikap individu mencerminkan kepribadiannya


Salah satu dampak pengaruh kelompok terhadap perkembangan sikap adalah terbentuknya keseragaman sikap di kalangan anggota berbagai kelompok sosial. Tetapi di dalam keseragaman itu juga terdapat keanekaragaman. Faktor utama yang mengakibatkan keanekaragaman itu adalah adanya perbedaan kepribadian dikalangan individu. Individu cenderung menerima sikap yang sesuai dengan kepribadiannya sebagai sikapnya sendiri. Hal ini berlaku untuk bermacam-macam sikap seperti etnosentrisme, sikap beragama, sikap politik,dan sikap terhadap masalah-masalah internasional.

Akan tetapi, kepribadian individu bukan merupakan sistem yang terintegrasi secara sempurna, dan individu mungkin akan mengambil sikap-sikap yang inkonsisten atau kontradiktif karena adanya pengajaran dari bermacam-macam otoritas dalam bidang yang berbeda-beda, karena afiliasinya dengan kelompok-kelompok yang saling bertentangan, dan karena adanya bermacam-macam keinginan yang bertentangan. Jadi manusia itu dapat mengabdi kepada banyak majikan.

v Pembentukan Sikap Positif

1.Pengertian Pembentukan Pembentukan yaitu hal ,cara dan sebagainya (kamus umum Bahasa Indonesia W.J.S Poerwadarminta).

2.Pengertian Sikap Terdapat beberapa pendapat mengenai pngertian sikap, diantaranya yaitu:

a. Masri (1972), mengartikan sikap sebagai kesediaan yang diarahkan untuk menilai atau menanggapi sesuatu.

b. Berkman dan Gilson (1981) mendefinisikan sikap adalah evaluasi individu yang berupa kecenderungan (inclination) terhadap berbagai elemen di luar dirinya. Allfort (dalam Assael, 1984) mendefinisikan sikap adalah keadaan siap (predisposisi) yang dipelajari untuk merespon objek tertentu yang secara konsisten mengarah pada arah yang mendukung (favorable) atau menolak (unfavorable).

c. Hawkins Dkk (1986) menyebutkan, sikap adalah pengorganisasian secara ajeg dan bertahan (enduring) atas motif, keadaan emosional, persepsi dan proses-proses kognitif untuk memberikan respon terhadap dunia luar.

d. Azwar (1995), menggolongkan definisi sikap dalam tiga kerangka pemikiran, yaitu:
§ Pertama, kerangka pemikiran yang diwakili oleh para ahli psikologi seperti Louis Thurstone, Rensis Likert dan Charles Osgood. Menurut mereka sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Berarti sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak(unfavorable) pada objek tersebut.

§ Kedua, kerangka pemikiran ini diwakili oleh ahli seperti Chief, Bogardus, LaPierre, Mead dan Gordon Allport. Menurut kelompok pemikiran ini sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu.Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksudkan merupakan kecenderungan yang potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.

§ Ketiga, kelompok pemikiran ini adalah kelompok yang berorientasi pada skema triadic (triadic schema). Menurut pemikiran ini suatu sikap merupakan konstelasi komponen kognitif, afektif dan konatif yang saling berinteraksi didalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu objek.

BAB III

PENUTUP

3.1Kesimpulan

Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental.

Psikologi adalah ilmu yang sedang berkembang dan pada hakikatnya psikologi dapat diterapkan pada setiap bidang dan segi kehidupan. Oleh karena itu cabang cabang psikologi bertambah dengan pesat, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan aktivitas kehidupan. Cabang cabang psikologi dapat digolongkan berdasarkan kekhususan bidang studinya, baik ilmu dasar (teoritis), maupun yang bersifat terapan (praktis). Penerapan psikologi berkembang ke berbagai aspek kehidupan manusia, demikian juga titik singgung dengan ilmu ilmu lain juga semakin banyak, misalnya dengan ilmu manajemen, ilmu ekonomi, ilmu perpustakaan, ilmu sosial dan sebagainya.

3.2 Saran

Dalam pembuatan makalah mengenai karbohidrat ini,tentu tak luput dari ketidak sempurnaan, untuk itu saran dan kritik dari teman-teman sangat di butuhkan, demi kesempurnaan pembuatan makalah kami.

Daftar pustaka

Anastasi, Anne. Psychological Testing. McMilan Co., Inc.,New York, 1976.

Abu Ahmadi, H. Dre., Psikologi Umum, Penerbit PT Bina Ilmu, Surabaya,Cet. I , 1983.

Agus Suyanto, Drs., Psikologi Umum, Penerbit Aksara Baru, Jakarta Cet. II,1981.

Bimo Walgito, Drs., Pengantar Psikologi Umum, Penerbit Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, Yogtakarta, Cet, I , Edisi III, 1981.

Jakarta, Jakarta Raya arrived from search.conduit.com on "tingkat kesadaran NursingBegin.com"

Krech, D.; Crutchfield, R.S.; & Ballachey, E.L. (1982). Individual in Society.
Chapter 6: The Formation of Attitudes. Berkeley: McGraw-Hill International Book Company.

Patty F, MA ,Prof,dkk., Pengantar Psikologi Umum, Penerbit Usaha Nasional, Surabaya, Cet. IV, 1982.

Posted on by Pakde sofa

Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Penerbit CV Rajawali, Jakarta, Cet. I ,1984.

Singgih Dirgagunarsa, Dr., Pengantar Psikologi, Penerbit Mutiara Jakarta, 1978.

Simanjutak B, SH. Dkk., Proses Belajar Mengaja, Penerbit Tarsito, Bandung, 1983.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar